1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

AIPNI & AINEC

Proficiat kepada Prodi Ners STIKes Santo Borromeus yang berhasil meraih peringkat 1 dalam uji kompetensi Nasional Ners AIPNI & AINEC Regional 6 periode Juli 2019.

 

 

Pencerahan Bagi STIKes Santo Borromeus dari LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten

Pada hari ini, Kamis, 25 April 2019 STIKes Santo Borromeus mendapatkan kunjungan dari Prof. Dr. Uman Suherman AS.,M.Pd. yang menyampaikan beberapa hal terkait pengelolaan dan pengembangan pembelajaran internal dan pengelolaan institusi di STIKes Santo Borromeus. Kehadiran Kepala LLDIKTI wilayah 4 Jawa Barat dan Banten ini disambut hangat oleh Yayasan Pendidikan Kesehatan Borromeus (YPKB),  Ketua dan Pembantu Ketua STIKes Santo Borromeus, pimpinan program studi, staf pendidik dan staf kependidikan STIKes Santo Borromeus.

Prof. Dr. Uman Suherman AS.,M.Pd., menitik beratkan pada pentingnya akreditasi yang dilakukan oleh BAN PT yaitu APT dan LAM PTKes untuk institusi pendidikan dan program studi yang ada di institusi pendidikan tersebut. Menurut beliau STIKes Santo Borromeus sudah baik karena sudah melakukan akreditasi perguruan tinggi dengan nilai B, akreditasi LAM PTKes untuk prodi D3 Keperawatan dengan nilai A, dan nilai B untuk program studi S1 Keperawatan&Ners dan prodi D3 Perekam dan Informasi Kesehatan. Untuk program studi D3 Farmasi sudah bagus, karena sudah berani untuk melakukan akreditasi meskipun baru 2 tahun melaksanakan pembelajaran akademik dan mendapatkan nilai C. Tentu saja hal ini akan terus ditingkatkan lagi untuk mendapatkan yang terbaik lagi.

Prof. Dr. Uman Suherman AS.,M.Pd., memaparkan bahwa saat ini jumlah Perguruan Tinggi Swasta yang ada di wilayah 4, Jawa Barat dan Banten sejumlah 486 buah. Dari seluruhnya, yang telah terakreditasi  A ada 5 pts, terakreditasi B ada 100 pts (termasuk STIKes Santo Borromeus) dan terakreditasi C 155 pts. Dengan demikian masih ada 226 pts yang belum akreditasi APT. Ini adalah tugas besar LLDIKTI wilayah 4 Jawa Barat dan Banten untuk terus mengawal institusi pendidikan tinggi swasta yang blm melakukan akreditasi APT.

Pertemuan yang dilangsungkan di kampus STIKes Santo Borromeus yang berada di Kota Baru Parahyangan Padalarang ini mengingatkan kembali setiap staf pendidik untuk tetap melakukan tridarma perguruan tinggi. Yang perlu menjadi catatan dalam pengabdian masyarakat bahwa tenaga pendidik tidak boleh ikut dalam pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa, akan tetapi mahasiswa harus ikut serta dalam pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tenaga pendidik.

Sungguh pertemuan ini memberikan pencerahan bagi civitas STIKes Santo Borromeus untuk dapat mempersiapkan diri dalam memberikan layanan pendidikan terbaik bagi setia mahasiswa dan layanan kesehatan yang prima bagi masyarakat pada umumnya.

-Ns. Elizabeth Ari Setyarini, S.Kep., M.Kes.AIFO (Ketua STIKes Santo Borromeus)

Selain Butuh Teman, Lansia Kita Juga Butuh Taman

Pernah menonton film Karate Kid 2 yang dibintangi oleh Jaden Smith (anaknya Will Smith) dan Jackie Chan? Semoga pernah. Film yang proses syutingnya berlokasi di Beijing China itu tidak kalah menariknya untuk ditonton seperti juga pendahulunya Karate Kid yang dibintangi oleh Pat Morita dan Ralph Macchio. Namun, tulisan ini bukanlah ingin mengupas seputar film itu. Dalam salah satu scene pada Karate Kid 2 terlihat para lansia sedang bermain tenis meja maupun senam tai chi di sebuah taman kota yang terlihat asri. Terlihat banyak lansia di situ, sehingga timbul pertanyaan apakah taman itu khusus untuk para lansia? Atau sekedar taman umum saja? Entahlah. Bisa iya bisa juga tidak, karena ada juga remaja yang sedang bermain basket dan berlatih biola.

Yang menarik adalah –jika betul diperuntukkan bagi para lansia- bahwa di Kota Bandung pun terdapat Taman Lansia. Saya sendiri tidak menemukan taman serupa di Bandung Barat. Taman Lansia ini terletak tak jauh dari pusat pemerintah Jawa Barat yaitu Gedung Sate. Taman ini berhadap-hadapan dengan Museum Pos Indonesia. Taman Lansia merupakan singkatan dari Taman Lanjut Usia, namun sepertinya para usia mudalah yang lebih dominan memanfaatkan taman ini.

            Banyak penelitian yang menemukan fakta bahwa seringkali para warga senior mengalami kesepian di hari tuanya. Karena itu para lansia sesungguhnya masih membutuhkan teman serta dukungan dari keluarga dalam mengisi hari-harinya. Aktifitas sehari-hari yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan berolah-raga ringan. Lansia dapat memanfaatkan taman-taman yang cukup teduh semacam Taman Lansia untuk berolah-raga atau pun mengobrol dengan teman-teman seusianya.

Di Taman Lansia setiap pagi biasanya cukup banyak orang berusia lanjut berolahraga. Olahraga yang sering dilakukan seperti jalan kaki santai, jogging,senam, atau bersepeda. Orang tua biasanya berolahraga sebelum pukul 10.00 wib. Sementara bila sore hari, tempat ini berubah menjadi tempat berkumpul anak muda.

Taman Lansia sesungguhnya cukup asri, meskipun banyak pohon-pohon yang cukup besar, juga dihiasi tanaman-tanaman lain yang menambah keasriannya. Sayangnya Taman Lansia tampaknya lebih diminati para kawula muda daripada lansianya sendiri, khususnya disore hari maupun hari Minggu.Terlepas dari kelompok usia mana yang lebih banyak memanfaatkan taman ini, seharusnya pemerintah patut memikirkan penambahan lokasi-lokasi sebagai taman lansia.

 

Dalam satu tulisan yang berjudul “2020, Lansia Indonesia Lebih Banyak Hidup di Kota” ada hal yang patut untuk dicermati.Dalam "Panduan Hari Kesehatan Sedunia" yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), disebutkan bahwa penuaan populasi terjadi secara paralel dengan cepatnya urbanisasi. Artinya, semakin tahun, jumlah lansia akan lebih banyak di perkotaan. Adapun data tentang populasi lansia itu sendiri, WHO mencatat bahwa dari tahun 2000 sampai 2050, populasi penduduk dunia yang berusia 60 tahun ke atas (lansia) akan menjadi lebih dari tiga kali lipat. Dan diperkirakan, pada tahun 2050, sekitar 80% orang tua akan hidup di negara-negara berkembang. Sehingga, di tahun 2050, kita akan benar-benar melihat begitu banyak lansia yang justru hidup di perkotaan negara-negara berkembang.

Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2014 menunjukkan bahwa lansia yang tinggal di perdesaan sebanyak 10,87 jutajiwa, lebih banyak daripada lansia yang tinggal di perkotaan sebanyak 9,37 juta jiwa. Namun, Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenkokesra) menyebutkan bahwa 10 tahun yang akan datang kondisinya akan berbalik. Diprediksikan jumlah penduduk lansia di perkotaan akan lebih besar dibanding perdesaan. Tak kurang dari 15,72 juta jiwa (11,20%) berada di kota, ketimbang perdesaan yang hanya sebesar 13,11 juta jiwa (11,51%). Salah satu faktornya adalah arus urbanisasi yang terus meningkat setiap tahunnya.

Fenomena terus meningkatnya jumlah lansia di perkotaan, hendaknya disikapi secara bijak oleh pemerintah, khususnya dalam bidang kesehatan. Dan sarana taman yang memungkinkan para lansia melaksanakan olah raga ringan atau sekedar berganti suasana. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia juga mengamanatkan agar hak para lansia untuk mendapat kesejahteraan hidup, baik dari kebutuhan kesehatan dan sosial maupun kesempatan berkarya (bekerja) dan menikmati fasilitas umum. Untuk kepentingan itu, sudah saatnya pemerintah tidak hanya sebatas menyediakan tempat penampungan, seperti panti lansia, tetapi juga harus memberi pelayanan kesehatan maupun kebutuhan hidup lainnya yang lebih memadai. Salah satu fasilitas umum yang dimaksud tentu adalah juga taman.

Lalu, apa saja yang menjadi syarat sebuah taman bagi para lansia? Pertama, tentu saja taman harus aman. Madeline Brozen dari UCLA Lewis Centerdi Amerika Serikat, telah mengembangkan seperangkat pedoman untuk ruang terbuka yang ramah-lansia. Beberapa hal yang direkomendasikan sebetulnya tidak jauh berbeda desain taman pada umumnya, antara lain:

Tingkatkan kewaspadaan: Berikan petunjuk arah dan jalan dengan ukuran huruf yang besar dan mudah terlihat. Petunjuk tentang tata letak taman harus dapat terbaca.Tanda-tanda harus setinggi 1,25 meter dari tanah atau lebih rendah, sehingga lansia yang menggunakan kursi roda juga dapat melihatnya.

Ciptakan Rasa Aman: Taman harus teduh tetapi tidak terlalu banyak pohon sehingga terasa tertutup.Taman harus memungkinkan mata melihat ke jalan.Trotoar harus lebar dan halus. Periksa ruang di antara area yang beraspal dan tidak beraspal untuk memastikan tidak ada titik di mana tongkat atau kursi roda dapat nyangkut atau terjebak.

Aksesibilitas: Jika taman berjarak cukup jauh dari fasilitas umum bagi lansia, tambahkan bangku di sepanjang jalan sehingga ada tempat untuk berhenti. Taman seharusnya tidak memiliki perbedaan ketinggian permukaan yang terlalu tinggi agar tidak menyulitkan bagi lansia yang menggunakan kursi roda.

Dukungan sosial: Desain taman harus memudahkan terjadinya interaksi antar lansia. Di taman dapat disediakan semacam papan buletin, ruang baca outdoor, patung dan air mancur yang membantu memulai percakapan.

Aktivitas fisik: Taman juga harus menampilkan angka penanda jarak sehingga lansia mengetahui telah berjalan seberapa jauh.Jika ada alat kebugaran dalam taman hendaknya di area yang teduh.

Privasi: Gunakan tanaman penyangga untuk mengurangi kebisingan jalan.

Alam: Hadirkan fitur air semisal air mancur yang indah dan menimbulkan sensasi rileks. Pastikan tempat itu dapat dicapai meskipun dengan berkursi roda. Dan jangan lupa, taman harus menonjolkan keindahan alam.

Taman Lansia hendaknya dirawat dengan baik. Taman hendaknya memberikan kenyamanan, kebersihan, dan asri agar menarik masyarakat berkunjung. Bila kebersihan tidak terjaga dan tempat tidak terawat siapa yang akan tertarik datang ke taman?. Haruskah kata “lansia” juga turut menggambarkan karakter sebuah taman ini sebagai padanan dari kata suram? Tentunya kita berharap agar Taman Lansia memberikan kegembiraan dan dapat menjadi pilihan tempat rekreasi bagi para lansia, orang muda, mapun keluarga.

Ferdinan Sihombing, S.Kep., Ners., M.Kep.

*tulisan ini telah dimuat di majalah Kalawarta terbitan Kota Baru Parahyangan Edisi September 2018

Segar Bugar Bersama Opa dan Oma

Menjaga diri tetap sehat dan bugar menjadi kebutuhan utama bagi setiap orang. Hal ini yang ingin ditekankan oleh mahasiswa program studi D3 Keperawatan STIKes Santo Borromeus kepada Opa dan Oma di Panti Werdha Karitas Cimahi. Walaupun sudah lanjut usia, kita harus tetap menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani.


Pagi ini, 25 April 2019, empat orang mahasiswa bertugas menjadi instruktur senam dan menjadi konselor kesehatan bagi mereka. Hangatnya sinar pagi menambah cerianya suasana senam kali ini.

Meskipun kegiatan ini merupakan salah satu bentuk praktik keperawatan gerontik, para mahasiswa tetap melayani dengan sepnuh hati begitu juga Opa dan Oma sangat antusias untuk mengikutinya.

Tetap sehat ya Opa, Oma.

-(JNP)

D3 Keperawatan STIKes Santo Borromeus Terakridatasi A

Kunjungan LAM PT KES pada tanggal 6 Juni 2018 yang lalu merupakan visitasi dan verifikasi dokumen terhadap borang akreditasi D3 Keperawatan STIKes Santo Borromeus yang sudah dikirimkan sebelumnya. Ibu Dr. A. V. Sri Suhardiningsih, S.Kp., M.Kes., dan ibu Tri Anjaswarni, S.Kp., M.Kep., menjadi asesor yang membantu kami menilai dan melihat mutu layanan pendidikan yang STIKes Santo Borromeus selenggarakan.

Visitasi yang berlangsung 6 – 7 Juni ini disambut hangat oleh Yayasan Pendidikan Kesehatan Borromeus (YPKB) yang kali ini diwakili oleh ibu Ir. Ceciliyani P. Suryanto., Ms.,  serta dikerjakan dengan penuh semangat oleh setiap staf pendidik dan kependidikan STIKes Santo Borromeus


Hasilnya menggembirakan!

LAM PT KES menyatakan program studi D3 Keperawatan STIKes Santo Borromeus dinilai layak dan sangat baik dengan nilai akreditasi A.

PROFICIAT D3 Keperawatan STIKes Santo Borromeus!


Semoga ini menambah motivasi dan memacu semangat Civitas Akademika dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dalam dunia pendidikan. (-JNP)